Wali Kota Segera Keluarkan SK Pengaturan Kos-kosan
SEMARANG- Banyaknya kos-kosan yang digunakan untuk praktik mesum mengudang keprihatinan Wali Kota Semarang H Sukawi Sutarip. Karena itu jika ada usulan agar dirinya mengeluarkan surat keputusan (SK) untuk mengatur, dia setuju. "Saya setuju ada SK. Nanti akan saya keluarkan."SK untuk pengaturan bagi kos-kosan, menurut dia, memang bisa dikeluarkan. Aturan yang dikeluarkan antara lain bisa menyangkut jenis kelamin orang yang kos maupun pengaturan jam berkunjung.
Tentunya menyangkut jenis kelamin, sebuah kos-kosan harus membedakan khusus putra atau putri. Jika dicampur antara putra atau putri, dikhawatirkan akan membuka peluang hal-hal yang tidak baik, meski tidak seluruhnya demikian.
SILAHKAN INVITE
untuk mendapatkan info2 dan tips2
RUMAH/KOS JOGJA - PIN 28421001 untuk mendapatkan info2 dan tips2
PROPERTI JOGJA - PIN 237149DE
TANAH DIJUAL JOGJA - PIN 5515EF65
Apalagi, kalau rumah kos tersebut tidak setiap saat diawasi oleh pemilik atau siapa pun yang diberi kepercayaan mengelola. Tentunya, kebebasan itu bisa disalahartikan oleh segolongan orang.
Untuk mengawasi aktivitas sebuah kos-kosan yang ada di kampung, menurut dia, tidak begitu sulit dilakukan oleh masyarakat ataupun pengurus RT/RW setempat. Namun karena ada yang berada di pinggir jalan raya, maka perlu pengaturan khusus.
Nantinya, dengan aturan itu akan ada semacam tanggung jawab dari camat, lurah, serta pengurus RW, dan RT untuk ikut mengawasi rumah kos-kosan. Hal itu menyangkut aktivitas di rumah kos tersebut.
Dia menegaskan, tidak perlu Perda dalam pengaturan tersebut. Sebab tidak menyakut seluruh atau sebagian besar masyarakat di Semarang. "Karena yang tercakup hanya sebagian kecil, maka hanya perlu SK Wali Kota," tandas dia.
Sosiologi asal Unika Soegijapranata H Hermawan Pancasiwi mengatakan, dirinya tidak mengingkari, banyak mahasiswi dan mahasiswa menjadi pekerja seks komersil (PSK). Meski demikian jumlahnya masih relatif kecil. Dia juga pernah menemukan poster yang berisikan cewek dari universitas tertentu lengkap dengan nomor HP-nya. "Saya masih melihat di kalangan mahasiswa tindakan itu masih dianggap tabu dan memalukan. Apalagi mereka itu insan akademik yang bisa berfikir panjang," tuturnya.
Menyinggung penyebabnya, mereka terjun ke dunia hitam biasanya berdalih untuk biaya kuliah maupun biaya hidup. "Saya tidak sepenuhnya percaya, itu lebih disebabkan godaan hidup dan lingkungan," katanya. (G7,H3-69)
No comments:
Post a Comment