Wednesday, December 14, 2011

Maruto yang jadi buron Densus 88
Pernah mengelola kos-kosan di Semarang
Image
Foto : wied
NAMA Maruto Jati Sulistyo asal Klaten kini menjadi buron Densus 88 Mabes Polri, karena diduga terlibat jaringan terorisme. Pria muda tersebut ternyata pernah menetap di kota Semarang. Sekitar tahun 1998 hingga 2006-an, orang tuanya memercayai Maruto mengelola sebuah rumah kos-kosan di Jalan Pamularsih IV, Kelurahan Bojong Salaman, Semarang Barat.Menurut mereka yang pernah kenal dengannya, Maruto merupakan sosok sederhana, kalem, dan familiar. Kendati ekonomi orang tuanya, Ir H Soejono SH MSi, termasuk mapan, tidak memengaruhi gaya hidup Maruto.
Kemana-mana dia lebih banyak naik motor Honda GL Max bukan keluaran terbaru. Padahal apabila dia ingin punya mobil, orang tuanya pasti sanggup membelikannya.

Lebih dari itu Maruto juga pernah kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Unissula Semarang. Seperti diakui Pembantu Dekan I FK Unissula, dr H Iwang Yusuf MSi, Maruto merupakan mahasiswa angkatan 1999 namun tidak aktif sejak 2005. ’’Dia dinyatakan DO (drop out), sebab kalau dua semester tak registrasi lagi otomatis kena sanksi DO,’’ katanya kepada Wawasan, pagi tadi.

Iwang tak mau berkomentar terkait dugaan mantan mahasiswanya itu terlibat terorisme. ’’Yang saya tahu, dia (Maruto) waktu kuliah termasuk sosok yang anteng dan biasa-biasa saja. Saya juga tak tahu alasan yang melatarbelakangi dia yang tiba-tiba berhenti kuliah,” ujarnya.

Sementara istri Maruto, Tri Utami juga pernah mengenyam pendidikan di FK Unissula dan berhasil meraih gelar dokter.
Kos-kosan
Soal bisnis kos-kosan yang dikelola Maruto itu, menurut Sucipto yang pernah tinggal di sana, semula tempat itu merupakan tanah kavling kosong. Lantas tanah itu dibeli orangtua Maruto dan dibangun untuk rumah kos-kosan keluarga. "Maruto juga tinggal di sini sembari mengelola koskosan milik bapaknya. Dia menempati salah satu kamar yang berada di bagian tengah rumah kos-kosan itu," kata Sucipto.
Pada saat itu Maruto bercerita kalau asalnya dari Klaten. Hanya saja Marito pernah mengirim surat yang ditujukamn kepada orangtuanya dengan alamat di kawasan Pedurungan, Semarang. "Maruto pernah cerita kalau dia memang asli Klaten. Tapi dari surat itu saya ketahui, kalau dia juga punya alamat rumah di Pedurungan Semarang," kata Cipto.
Dalam kesehariannya, Maruto menampakkan diri sebagai sosok muslim yang taat. Sehari-hari kalau bepergian, dia selalu mengenakan busana muslim berjubah. Namun bila di rumah kos berpenampilan layaknya warga lain, sering hanya mengenakan kaos oblong dan celana panjang komprang.
Meski demikian, Maruto tidak memelihara jenggot sebagaimana teman-teman yang sering bermain dan menginap di rumah kos milik Maruto. Dia juga pendiam tidak banyak bicara, kalau bicara tidak pernah terdengar keras. Meski demikian dia tetap bisa menjaga komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya.
"Dengan ibu-ibu penghuni kos dan tetangga sekitar rumah kos, dia juga familiar. Dengan penghuni kos, dia seringkali mengajak bersenda-gurau, terkesan tidak menjaga jarak dengan orang lain," kata dia.
Kamar terbuka
Di sisi lain, Maruto akan selalu tertarik kepada orang yang punya niat untuk menjalankan syariat agama. Sucipto mengaku, ketika dia kebingungan untuk mencarikan nama muslim yang baik untuk anaknya yang baru lahir, Maruto meminjamkan buku tentang nama-nama yang baik untuk bayi muslim.
"Dari buku yang dipinjamkan oleh Mas Maruto itulah saya mendapatkan rangkaian nama yang baik untuk anak saya," kata dia.
Di dalam mamar milik Maruto di rumah kos tersebut, terdapat beberapa tumpuk buku-buku agama, di samping buku-buku cetak materi kuliah dia sehari-hari, di Fakultas Kedokteran Unissula Semarang. Meski demikian dia tidak terlalu protektif terhadap kamarnya itu.
Jendela kaca nako selalu terbuka, kamar terkadang terbuka tanpa terkunci, sehingga penghuni kos bisa melongok ke dalamnya. "Waktu itu sih tidak ada yang mencurigakan dari dia, tidak ada tanda-tanda kalu dia itu memiliki jaringan kalangan teroris," kata dia.
Hanya saja, terlihat kesehariannya setiap berada di dalam kamar kos, Maruto rajin mengaji bersama teman-temannya yang berpenampilan mengenakan jubah dan bercambang.
Maruto tidak malu untuk mencari uang sendiri. Sambil kuliah, dia mau menjual nasi bungkus dan makanan gorengan yang dia bawa dari rumah kos, untuk dijual kepada teman-temannya di kampus Unissula. "Maruto berpesan kepada salah satu ibu penghuni kos untuk dibuatkan gorengan dan nasi bungkus. Setiap pagi, oleh Maruto, makanan itu dimasukkan ke dus mi instan dan dibonceng di motornya untuk dibawa dan dijual ke kampus," kata dia.
Bahkan ketika Sucipto bertanya kepada Maruto tentang namanya, yang merupakan orang taat beragama namun namanya bukan nama Arab, melainkan nama berbau Jawa, Maruto sambil berkelakar, Maruto itu nama yang baik, pemberian dari orang orang tua."
Sejak lebih dari setahun lalu, rumah kos di Jalan Pamularsih tersebut telah dipindahtangankan, bukan lagi milik Ir H Soejono SH MSi, orang tua Maruto. Pemilik yang sekarang, mengaku membeli rumah tersebut dari lelang di sebuah bank. stp/skh-Ct

No comments:

Post a Comment